Kamis, 23 Juli 2026

Perdana Menteri Pertama Sutan Sjahrir Yang Pernah Menimba Ilmu di Kota Medan

Menghadirkan perpaduan dua momen bersejarah: di sisi kiri adalah gedung utama MULO Medan (cikal bakal SMAN 1 Medan) sekitar tahun 1922, tempat Sutan Sjahrir menimba ilmu selama tahun 1919 hingga lulus pada 1923; di sisi kanan adalah potret beliau di masa dewasa sebagai Perdana Menteri pertama Republik Indonesia dan pemikir besar kemerdekaan. Komposisi ini menghubungkan jejak awal pendidikannya di Medan dengan sosok pemimpin bangsa yang lahir dari pengalaman di tanah Deli. Sumber : Arsip Sejarah Kota Medan, Perpustakaan Nasional RI, Kompilasi BinasumutNews – Berita Terpercaya dari Sumut



 



BinasumutNews



SUTAN SYAHRIR: JEJAK PEMIKIR BANGSA YANG AWAL PERJUANGANNYA TERTANAM DI MEDAN



MEDAN – BinasumutNews – Berita Terpercaya dari Sumut – Banyak orang mengenal Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri pertama Republik Indonesia, tokoh pemikir yang tenang namun tajam, dan arsitek pergerakan kemerdekaan yang tak pernah lelah. Namun tak banyak yang tahu: Medan adalah tanah tempat ia tumbuh, pertama kali membuka wawasan dunia, dan menanam benih cita-cita membebaskan negeri ini.

 

Bagi warga Sumatera Utara, nama besarnya bukan sekadar catatan buku sejarah nasional. Ia adalah bagian dari darah dan daging tanah ini—lahir di Bukittinggi, namun menempa jiwa dan akal sehatnya di Medan selama masa pendidikan yang sangat menentukan.

 

 

 

📚 MASA MENIMBA ILMU DI MEDAN: TAHUN BERAPA, DIMANA, HINGGA KAPAN LULUS

 

Sutan Sjahrir datang ke Medan pada tahun 1919, saat berusia sekitar 15 tahun. Ia langsung masuk ke jenjang pendidikan menengah pertama di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Medan—sekolah menengah modern pertama dan terkemuka di wilayah Sumatera Timur pada masa kolonial, yang kini menjadi cikal bakal SMAN 1 Medan.

 

Ia bersekolah di Medan selama empat tahun penuh, hingga resmi lulus pada tahun 1923.

 

Selama masa bersekolah di sini:

 

- Ia belajar tidak hanya pengetahuan umum, tapi juga bahasa Belanda, Inggris, dan wawasan dunia yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya

- Bergaul dengan kawan dari beragam latar: pribumi, Tionghoa, India, dan Eropa, yang membuka pandangannya soal persamaan derajat

- Mulai mengamati ketimpangan nyata: kekayaan tanah Deli mengalir ke luar, sementara rakyat pribumi masih banyak yang tertinggal

- Mulai aktif berdiskusi dan menyusun pandangan tentang keadilan serta kemajuan bangsa

 

Setelah lulus MULO Medan tahun 1923, ia melanjutkan pendidikan ke Batavia (Jakarta) lalu ke Belanda, namun benih pemikiran dan keberaniannya berakar kuat dari pengamatan selama empat tahun di kota ini.

 

 

 

🧠 SOSOK YANG TAK HANYA PEMIMPIN, TAPI JUGA GURU BANGSA

 

Berbeda dengan tokoh pergerakan lain yang lebih banyak mengandalkan semangat api, Sutan Sjahrir dikenal sebagai pemikir yang rendah hati namun tegas. Ia pernah berkata: "Kemerdekaan bukanlah hadiah yang diminta kepada penjajah, melainkan martabat yang kita bangun sendiri dengan akal, kerja keras, dan persatuan."


Sutan Sjahrir saat menyampaikan siaran nasional melalui Radio Republik Indonesia, sekitar tahun 1946. Saat menjabat Perdana Menteri pertama Republik Indonesia, beliau sering menggunakan saluran ini untuk menyampaikan visi kemerdekaan, menjelaskan posisi bangsa Indonesia kepada dunia internasional, serta menguatkan semangat persatuan rakyat di tengah situasi masa awal kemerdekaan yang masih penuh tantangan. Sumber: Arsip Perpustakaan Nasional RI & Dokumentasi Sejarah RRI, Kompilasi BinasumutNews – Berita Terpercaya dari Sumut




Ia menolak kekerasan yang tak perlu, namun tak pernah mundur menghadapi ketidakadilan. Dan satu hal yang jarang diketahui: hingga akhir hayatnya, Sjahrir selalu menyebut Medan sebagai "kota yang membuka mataku". Ia sering berpesan kepada pemuda Sumut: jangan hanya menunggu perhatian dari pusat, jadikanlah pendidikan sebagai senjata untuk memajukan tanah kelahiran sendiri.

 

 

 

📌 PESAN BUAT GENERASI MUDA SUMUT HARI INI

 

Kini bangunan sekolah tempat ia belajar sudah berubah wajah, jalanan Medan pun makin ramai, namun semangatnya tetap hidup:

 

- Kecerdasan harus berjalan beriringan dengan hati nurani

- Anak daerah pun bisa menjadi pemimpin yang dihormati dunia

- Memajukan negeri dimulai dari memahami dan mencintai tempat kita dilahirkan

 

BinasumutNews menyajikan catatan ini agar kita tak lupa: di balik nama besar Sutan Sjahrir, ada jejak langkah nyata yang dimulai dari bangku sekolah di kota kita, Medan.

 

 

 

Sumber Referensi Sejarah: Arsip Perpustakaan Daerah Sumut, Biografi Resmi Sutan Sjahrir, Catatan Sejarah Pendidikan Kota Medan

Sajian Lengkap & Sudut Pandang Lokal: BinasumutNews – Berita Terpercaya dari Sumut


0 komentar:

Posting Komentar