![]() |
Kesenjangan antara kesalehan ritual dan integritas sosial di Indonesia. |
BinasumutNews
INDONESIA PERINGKAT 1 DUNIA PALING RAJIN BERDOA, NAMUN KONTRAS DENGAN INTEGRITAS SOSIAL
📌 PANDANGAN PENGAMAT DAN AHLI
Fenomena kesenjangan ini dibahas secara mendalam oleh Prof. Dr. Wahyuddin Halim (Guru Besar Sosiologi Agama UIN Alauddin Makassar) dalam pidato pengukuhan jabatan profesornya pada 29 April 2026, serta diperkuat oleh kajian Dr. Jonner Simarmata, M.M. (Pengamat Sosial & Dosen Universitas Batanghari) dalam tulisan terbit Januari 2026.
Mereka menyoroti tiga akar utama paradoks kesalehan:
1. Kesalehan Formal vs Substansial: Ibadah sering dijalankan sekadar rutinitas atau identitas budaya, belum sepenuhnya dihayati sebagai landasan etika yang mencegah perbuatan buruk terhadap sesama.
2. Pendidikan Lebih Banyak Hafal daripada Memahami: Pola sosialisasi lebih menekankan doktrin dan simbol, sementara penalaran kritis serta penerapan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari kurang dikembangkan.
3. Tekanan Citra Sosial: Angka tinggi ketaatan juga dipengaruhi kecenderungan masyarakat memberikan jawaban yang dianggap "benar secara norma" dalam survei, bukan mencerminkan perilaku nyata di lapangan.
⚠️ DAMPAK YANG TERASA
Kesenjangan ini terlihat nyata:
- Integritas masih lemah: Skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2025–2026 berada di angka 34–37, menempatkan kita di peringkat sekitar ke-110 dari 180 negara .
- Rentan hoaks: Tingkat literasi dan nalar kritis belum seimbang dengan ketaatan beribadah, sehingga mudah terpengaruh berita bohong.
- Kurang empati: Sikap kaku, mudah menghakimi, dan kekerasan akibat hal sepele masih kerap terjadi.
🤝 SOLUSI YANG DIHARAPKAN
Para pengamat menyarankan:
✅ Memperkuat pendidikan karakter dan etika mulai dari keluarga hingga lembaga pendidikan.
✅ Mengembalikan makna ibadah sebagai pembentuk akhlak, bukan sekadar gerakan lahiriah.
✅ Mendorong keseimbangan antara ketaatan beragama dengan pengembangan nalar kritis dan kepedulian sosial.
Sumber: Laporan Pew Research Center 2024, Pidato Prof. Wahyuddin Halim (UIN Alauddin Makassar), Kajian Dr. Jonner Simarmata, Transparency International
BinasumutNews - Berita Terpercaya dari Sumut













