Senin, 27 Juli 2026

Paradoks Besar: Indonesia Peringkat 1 Dunia Paling Rajin Berdoa, Tapi Integritas Masih Jadi Tantangan?

Kesenjangan antara kesalehan ritual dan integritas sosial di Indonesia.


 



BinasumutNews



INDONESIA PERINGKAT 1 DUNIA PALING RAJIN BERDOA, NAMUN KONTRAS DENGAN INTEGRITAS SOSIAL


Oleh : Admin BinasumutNews

BinasumutNews,27 Juli 2026 -Berdasarkan laporan survei global Pew Research Center periode 2023–2025, Indonesia menempati peringkat pertama dunia sebagai negara dengan masyarakat paling rajin berdoa, dengan angka mencapai 95% warga dewasa yang menyatakan rutin berdoa setiap hari . 

Namun fakta kesalehan ini menampilkan paradoks yang mencolok: tingginya frekuensi ritual tidak berjalan seiring dengan perbaikan integritas, kejujuran publik, hingga penurunan kasus pelanggaran hukum dan korupsi.

 

 

 

📌 PANDANGAN PENGAMAT DAN AHLI

 

Fenomena kesenjangan ini dibahas secara mendalam oleh Prof. Dr. Wahyuddin Halim (Guru Besar Sosiologi Agama UIN Alauddin Makassar) dalam pidato pengukuhan jabatan profesornya pada 29 April 2026, serta diperkuat oleh kajian Dr. Jonner Simarmata, M.M. (Pengamat Sosial & Dosen Universitas Batanghari) dalam tulisan terbit Januari 2026.

 

Mereka menyoroti tiga akar utama paradoks kesalehan:

 

1. Kesalehan Formal vs Substansial: Ibadah sering dijalankan sekadar rutinitas atau identitas budaya, belum sepenuhnya dihayati sebagai landasan etika yang mencegah perbuatan buruk terhadap sesama.

2. Pendidikan Lebih Banyak Hafal daripada Memahami: Pola sosialisasi lebih menekankan doktrin dan simbol, sementara penalaran kritis serta penerapan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari kurang dikembangkan.

3. Tekanan Citra Sosial: Angka tinggi ketaatan juga dipengaruhi kecenderungan masyarakat memberikan jawaban yang dianggap "benar secara norma" dalam survei, bukan mencerminkan perilaku nyata di lapangan.

 

 

 

⚠️ DAMPAK YANG TERASA

 

Kesenjangan ini terlihat nyata:

 

- Integritas masih lemah: Skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2025–2026 berada di angka 34–37, menempatkan kita di peringkat sekitar ke-110 dari 180 negara .

- Rentan hoaks: Tingkat literasi dan nalar kritis belum seimbang dengan ketaatan beribadah, sehingga mudah terpengaruh berita bohong.

- Kurang empati: Sikap kaku, mudah menghakimi, dan kekerasan akibat hal sepele masih kerap terjadi.

 

 

 

🤝 SOLUSI YANG DIHARAPKAN

 

Para pengamat menyarankan:

✅ Memperkuat pendidikan karakter dan etika mulai dari keluarga hingga lembaga pendidikan.

✅ Mengembalikan makna ibadah sebagai pembentuk akhlak, bukan sekadar gerakan lahiriah.

✅ Mendorong keseimbangan antara ketaatan beragama dengan pengembangan nalar kritis dan kepedulian sosial.

 

Sumber: Laporan Pew Research Center 2024, Pidato Prof. Wahyuddin Halim (UIN Alauddin Makassar), Kajian Dr. Jonner Simarmata, Transparency International

BinasumutNews - Berita Terpercaya dari Sumut

0 komentar:

Posting Komentar